Sabtu, 27 Desember 2008

Dua Ekor Singa

 
Suatu sore di tengah telaga terlihat dua orang yang sedang memancing. Tampaknya mereka ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu bersama. Diatas perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan membentuk riak. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap sayap angsa yang sedang berenang beriringan. Suasananyapun begitu tenang hingga terdengar sebuah percakapan.

“Ayah”

“Hmm…ya.” Sang ayah menjawab perlahan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.

“Beberapa malam ini,” ucap sang anak, “ aku bermimpi aneh.
Dalam mimpiku ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigi mereka terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan mengeram seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.”

Anak muda ini terdiam sesaat, lalu melanjutkan ceritanya. “ Singa yang pertama terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Tubuhnya pun kokoh, bulu-bulunya teratur rapih. Walaupun suaranya terdengar keras, tapi menenangkan buatku.”

Ayah menoleh lalu meletakan pancingnya di pinggir haluan.

“Tapi, Ayah, singa yang satu lagi menakutkan. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana kemari. Punggungnya kotor. Bulu-bulunya ada yang koyak. Suaranya lantang namun parau dan menyakitkan.”

“Aku bingung, apa maksud dari mimpi itu. Apakah singa – singa itu gambaran dari sifat – sifat baik dan buruk yang aku miliki ? Dan singa mana yang akan memenangkan pertarungan itu karena nampaknya mereka sama – sama kuat ?”

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda gagah di depannya. Sambil tersenyum, si ayah berkata, “Pemenangnya adalah yang paling sering kau beri makan.”

Ayahnya tersenyum dan kembali mengambil pancingnya. Lalu dengan satu hentakan kuat di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran – pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap – sayap angsa putih di tepian telaga.

Sahabat, begitulah adanya. Setiap diri kita punya dua ekor ‘singa’ yang selalu bersaing. Keduanya selalu berusaha untuk saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lain. Pertarungan diantara mereka tak pernah tuntas karena selalu saja terjadi pergiliran kemenangan. Kalah menang dalam persaingan itu layaknya mata koin yang selalu berganti – ganti. Dan kita sering di buat bingung, sebab kedua kekuatan baik – buruknya ini terlihat sama kuatnya.

Tapi siapakah pemenangnya saat ini dalam dirimu ? Singa yang kokoh dengan bulu – bulu teratur ataukah singa yang berbulu koyak dan menakutkan ? Lalu singa macam apa yang menguasaimu ? “Singa” yang optimistis, pantang menyerah, tekun, sabar, rendah hati, cinta damai dan toleran ataukah “singa” yang bringas, mudah emosi, sombong dan arogan ?

Saya percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua singa itu. Jika kita sering memberi ‘makan’ pada singa yang yang tenang tadi maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa untuk memupuk optimisme dan pantang menyerah, maka ‘singa’ yang tenang akan memberikan keberhasilan. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam marah, mudah curiga dan berprasangka, sombong dan sering tak sabar, maka jelaslah ‘singa’ macam apa yang akan jadi pemenangnya.

Sahabat, biarkan “singa – singa” penuh semangat hadir dalam jiwamu. Rawatlah dengan keluhuran budi dan kebersihan nurani. Sisirlah bulu – bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat punggungnya dengan optimisme dan pertajam selalu kuku – kuku kesabarannya. Biarkan ia menjadi pemenang. Singa yang kokoh, dengan bulu – bulu yang teratrur rapih, kuku yang tajam, suara yang lantang namun tetap tenang dan tegas.

Namun jangan biarkan ‘singa – singa’ pemarah menguasai pikiranmu. Jangan pernah berikan kesempatan bagi kesombongan untuk menjadi besar dan menghalangi keberhasilanmu. Jangan biarkan tinggi hati, kedengkian, emosi dan dendam memimpin hatimu.

Dunia PII

Rabu, 24 Desember 2008

Kamus Online Plus Penerjemah Handal (online dictionary)

Online Dictionary

What You Need for transliteration (online translator) please click the link above.

Pada suatu hari ada seorang yang kebingungan, sebab ia mendapat tugas untuk cari materi diinternet untuk dibuat suatu presentasi, namun apa mau dikata dia sama sekali gak bisa bahasa orang barat alias bahasa inggris, tapi dia mencoba mencari solusinya dengan mencari orang yang bisa bahasa ingris guna untuk menterjemahkannya supaya dia dapat mengerjakan tugasnya tersebut, namun setelah mondar- mandir kesana kemari sampai capek sekalipun dia tidak mendapatkan apa yang ia cari yaitu orang yang dapat membantu dia, al hasil hanya capek dan tugas yang belum kelar sama sekali yang ia dapat, dan orang itu adalah gue sendiri He...he...he...

Lalu keesokan harinya ia mencoba cara lain lagi setelah semalaman berfikir untuk mencari solusi dan tidak ketemu-ketemu cara yang tokcer. Tapi tuhan memang maha adil, tuhan tidak akan menimpakan suatu ujian yang hambanya tidak sanggup menerimanya. dan ketika pagi itu q membuka E-Mailq disitu ada beberapa e-mail baru yang masuk dan setelah q buka satu persatu maka Alhamdulillah, segala puji bagi allah yang akhirnya q dapat solusi dari persoalan tersebut diatas. maka langsung saja q meluncur kealamat yang ditunjukkan oleh temanq yang mana intinya adalah "kamus online".

Nah dari itu saya ingin berbagi pengalaman bersama para Friends supaya tidak kelabakan alias kebingungan dengan tugas yang berbahasa lain, nah gunakan sebaik2nya ya! oke friends.....?!  

Kamus Plus Penerjemah, Nie ada berita ter-News bagi anda yang kesulitan untuk mentranslate dari bahasa ini kebahasa itu (bahasa inggris ke indonesia ato DLL) maka disini solusinya....

ato langsung ketik aza dibrouser temen2 nie...alamatnya,

http://translate.google.com

Sabtu, 13 Desember 2008

RENUNGAN

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,"jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.___________
Artikel kiriman Oman Danarmaja (Oman), message@mail.12frenz.com

Senin, 17 November 2008

Lapah-lapah





Pagi-pagi buta sekitar jam 3.00 WIB di lantai empat asramaku suara membangunkan terdengar ditelingaku, mataku masih merem terasa sulit untuk dibuka, "BANGUN-BANGUN, dah pagi kita harus berangkat jam empat nanti ketinggalan " terdengar suara seorang yang telah duluan ia terbangun karena kami akan ada acarahari itu yang pastinya asyik tapi akan sangat melelahkan, hal itu terpikir oleh kami, meski begitu kami bertekad untuk tetap melaksanakannya walau dengan resiko apapun yang akan trjadi, dengan teka dan semangat membara kami cepat-cepat bersiap.

Tepat jam 4.00 WIB kami berkumpul di tempat yang telah kami tentukan sebelumnya tapi ketika kelompok kami datang sudah siap untuk berangkat, ada.... aja' (namanya orang indonesia yang biasa santai) yang masih belum lengkap dibagian kelompok yang lain. setelah beberapa saat ditunggu maka merekapun datang juga namun lagi-lagi masih kurang dua orang, dan jam saat itu ialah pukul 04.30 WIB yang mana rencana kami berangkat jam 04.00 WIB jadi molor alias tidak sesuai jadwal, "hei sudah lama ni nanti kita ketinggalan (salah satu tman kami menyeltuk)" lalu salah satu teman kami memutuskan untuk bersepakat, yaitu meninggalkan dua orang tadi atau ditunggu, kemudian kami berspakat untuk meninggalkan saja karena jam sudah mepet dan sudah jauh dari jadwal yang kmi susun sebelumnya dan saat itu mesin sudah dinyalakan dan akan langsung cabut tu sopir, EEE... kok ternyata mereka muncul, "Hampir saja kalian ketinggalan, kirain gak jadi ikutan" kata salah satu teman kami.
Dijalan kami bersorak-sorai dan kami pikir nanti disana tidak ada waktu lagi untuk sarapan maka kami putuskan langsungsaja menyrbu perbekalan yang sudah dibawa, setelah perut kami kenyang lalu ada seorang yang ternyata membawa kamera dan langsung saja "EKSEN!".

Setelah kurang lebih satu jam kami tiba ditempat tujuan dan disitu istirahat sebentar sambil menunggu ketua kelompok masing-masing melapor kepanitia penyelenggara Napak Tilas Panglima Besar Jendral Besar Sudirman yang diadakan di kota Kediri-Bajulan. setelah istirahat beberapa lama terdengarlah panitia mengumumkan untuk bersiap-siap dan kami pun bersiap untuk untuk melakukan start yang dimulai dari kota kediri. kami berkelompok bersiap dan berjalan kearah jalan raya yang dijadikan start awal untuk itu, setelah berkumpul panitia mengumumkan bahwa sebelum napak tilas dimulai maka kami semua harus mengadakan seremonial untuk mengenang jasa-jasa beliau yang amat besar pada waktu memperjuangkan kemerdekaan ngara kita yaitu negara manalagi klo bukan indonesia tercinta ini.
Pukul 6.00 tepat dimulailah perjalanan itu dengan mendahulukan yang perorangan dan setelah perorangan selesai disusul dengan kelompok-kelompok/yang beregu, kami mulai menyusuri jalan raya yang disitu banyak berbaur dengan mobil dan motor yang banyak dijalan raya tersebut, tapi kami tetap semangat dan tak mengurangi sedikit pun semangat perjuangan kami yang tertanam bersama niat kami yaitu untuk mengenang pahlawan kami yang rla berkorban jiwa dan raganya demi untuk tegaknya bangsa dan negara ini, seandainya dahulu para pahlawan kita tidak mau berjuang atas adanya penjajahan mungkin kita tidak akan ada atau klau pun ada kita tidak akan hidup seperti saat ini yang mana kita berdiri di negri sendiri dan dapat mengingat-ingat  jasa-jasa pahlawan yang salah satunya ialah yang kami peringati/ kenang saat kami mngadakan cara napak tilas tersut yaitu panglima besar kita jendral Sudirman.....  

To Be continued Bro.......

Jumat, 14 November 2008

KUPU2

kalau anda, kita, menyadari tentang keindahan sebenarnya banyak yang bisa kita dapat dari manfaat keindahan. keindahan dapat menyegarkan jiwa dan raga yang tadinya kusam tak ada dan tak dapat sedikit air dari embun pa lagi dari hujan.
dan keindahan itu akan kita dapatkan pa bila kita dapat atau selalu memancarkan aura2 positif/ kebaikan budi, yang mana dampak dari itu ialah kita bisa mendapatkan teman, kawan, sobat, bahkan yang tadinya memusuhi kita akan dapat menjadi sembilan puluh derajat menjadi sobat sejati kita (insyaallah), seperti pepatah bilang;

kalau kita ingin menangkap kupu2, hendaknya kita berfikir dahulu, apakah tidak lebih indah kalau kupu2 itu dibiarkan terbang mengelilingi kita???

dari situ kita dapat b'fikir dari pada kita mengambil sesuatu dari dorongan ego kita maka lebih baik kita memperbaiki semua untuk semua "friend just friends".
 
TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA. Thanks you for visiting!
Share |